GUNUNGSITOLI – Lembaga Swadaya Masyarakat Kemilau Cahaya Bangsa Indonesia (LSM KCBI) kembali turun ke jalan untuk keempat kalinya, menyuarakan keprihatinan atas proyek revitalisasi SMAN Unggulan Sukma Nias yang berlangsung di Desa Fodo, Kota Gunungsitoli, pada Rabu (30/9). Kali ini, tim KCBI bahkan diizinkan meninjau langsung lokasi pembangunan namun temuan di lapangan justru makin mempertegas kekhawatiran mereka, disertai dugaan tekanan hingga ancaman senjata tajam.
Agri Helpin Zebua, Pimpinan Aksi sekaligus Koordinator Wilayah KCBI Kepulauan Nias, menyebutkan bahwa peninjauan langsung di lokasi memunculkan sejumlah temuan yang mencurigakan.
“Kami melihat ada material yang perlu dipertanyakan, seperti pasir yang diduga bercampur lumpur serta penggunaan batu kapur yang tidak sesuai standar.”
Helpin menegaskan, penekanan terhadap kualitas bangunan ini bukan tanpa alasan. Gedung tersebut kelak akan digunakan oleh para pelajar, sehingga keselamatan dan mutu konstruksi menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
“Yang akan memanfaatkan bangunan ini adalah anak-anak kita ke depan. Kualitas pekerjaan harus benar-benar terjamin, jangan sampai menimbulkan bahaya di kemudian hari.”
Situasi semakin memanas dengan adanya dugaan upaya penghalangan terhadap aksi tersebut. Selama dua hari terakhir, pihak KCBI mengaku beberapa kali berhadapan dengan sekelompok oknum yang diduga sengaja didatangkan untuk membubarkan massa. Bahkan pada aksi hari ini, terang-terangan ada oknum yang membawa parang di lokasi aksi.
“Dalam dua hari berturut-turut kami dihadapkan dengan oknum yang kami duga preman. Hari ini ada yang terang-terangan membawa parang saat kami sedang beraksi.”
Meski dihadapkan pada tekanan dan ancaman, KCBI menegaskan tidak akan mundur.
“Kami tidak takut. Yang kami suarakan adalah kepentingan dan masa depan anak-anak di Kepulauan Nias.”
KCBI meminta pemerintah Provinsi sebagai pelaksana proyek, serta instansi berwenang untuk membuka dokumen secara transparan dan memberikan penjelasan terbuka mengenai spesifikasi teknis serta penggunaan material dalam proyek bernilai miliaran rupiah ini. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak kontraktor maupun pemerintah terkait tuduhan tersebut.Gunawan H.
