Paboya, Sulawesi Tengah — Warga Paboya melaporkan aktivitas tambang emas ilegal berskala besar kepada media kpktipikornews. Di lokasi, excavator jenis Komatsu PC200 terlihat beroperasi terang-terangan di lereng bukit yang sudah dibongkar habis. Puluhan pekerja tampak beraktivitas di area yang dilengkapi tenda-tenda darurat sebagai basecamp. Masyarakat mendesak Kapolda Sulawesi Tengah dan Kapolres setempat segera menutup seluruh operasi tambang ilegal ini tanpa kompromi.
Di lapangan, fakta yang terkonfirmasi tidak bisa dibantah. Satu unit excavator berat sedang mengeruk lereng bukit. Tenda-tenda berterpal biru dan oranye berdiri kokoh di puncak bukit sebagai pos permanen penambang. Karung-karung berisi material hasil galian menumpuk di beberapa titik. Selang-selang kuning terbentang untuk proses pencucian material. Ini bukan tambang rakyat kecil-kecilan — ini operasi terorganisir, berskala besar, dan bermodal besar.
Warga juga melaporkan keberadaan tromol pengolah emas dan lubang-lubang tikus yang menganga di berbagai titik. Penggunaan bahan kimia berbahaya seperti merkuri dalam proses pengolahan emas mengancam langsung sumber air dan kesuburan tanah. Lereng bukit yang dikupas secara masif meningkatkan risiko longsor. Lubang-lubang galian yang dibiarkan terbuka menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga, terutama anak-anak. Kerusakan lingkungan ini bukan prediksi — sudah terjadi dan terlihat jelas di mata warga.
Aktivitas ini jelas melanggar Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Pengoperasian alat berat di lokasi tambang tanpa izin mempertegas bahwa ini bukan pelanggaran ringan. Warga menuntut aparat tidak hanya menutup lokasi, tetapi menyeret setiap pelaku dan pemodal ke proses hukum. Pertanyaan mendasar yang diajukan warga: siapa yang membiayai excavator dan operasi sebesar ini, dan mengapa bisa beroperasi tanpa tersentuh?
Paboya sudah lama dikenal sebagai daerah dengan kandungan emas tinggi yang kerap menjadi sasaran penambang liar. Namun skala operasi yang terkonfirmasi di lapangan menunjukkan eskalasi yang serius. Kehadiran alat berat bernilai ratusan juta rupiah dan puluhan pekerja di lokasi mengindikasikan adanya jaringan pemodal di balik operasi ini. Warga menuding kelambanan aparat selama ini sebagai penyebab utama penambang semakin berani.
Redaksi kpktipikornews telah berupaya menghubungi pihak Polda Sulawesi Tengah dan Polres setempat untuk konfirmasi, namun hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan. Warga tidak meminta wacana atau janji. Mereka menunggu satu hal: tindakan nyata. (kpktipikornews)
