Kuningan -perskpktipikor 15 Agustus 2026 Ada kalanya seseorang tidak perlu berdiri di balik megahnya tembok istana untuk membuktikan bahwa dirinya hadir bagi rakyat. Ada kalanya kebesaran justru lahir dari keberanian untuk turun, mendengar, merasakan, dan berbuat nyata bagi masyarakat.
Itulah yang kini ingin ditunjukkan oleh Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Cirebon, Pangeran Kuda Putih. Di tengah berbagai pandangan, penilaian, bahkan mereka yang masih memandang beliau sebelah mata, kepedulian beliau terhadap masyarakat perlahan berbicara melalui tindakan.
Dan kali ini, langkah beliau menggugah perhatian publik Nusantara.
Gagasan Kampanye Nasional STOP BULLYING / STOP PERUNDUNGAN terhadap anak-anak Indonesia menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian beliau terhadap masa depan generasi bangsa. Sebuah gagasan yang lahir bukan sekadar untuk mendapatkan sorotan, melainkan dari kegelisahan melihat anak-anak Indonesia yang semestinya tumbuh dalam kasih sayang, rasa aman, dan kesempatan untuk meraih masa depan, justru masih menghadapi kekerasan, penghinaan, perundungan, dan tekanan sosial.
Namun kampanye ini tidak akan berhenti pada slogan dan seruan semata.
Sebagai bagian dari misi besar tersebut, Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Pangeran Kuda Putih akan menggagas dan membentuk SATGAS STOP BULLYING, sebuah gerakan sosial yang diarahkan untuk menjadi bagian dari upaya perlindungan anak-anak Indonesia dari berbagai bentuk perundungan.
SATGAS STOP BULLYING diharapkan menjadi wadah kepedulian masyarakat yang hadir untuk mencegah, mengedukasi, menerima laporan, memberikan pendampingan, serta mendorong penanganan yang tepat terhadap peristiwa bullying/perundungan, dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat dan pihak yang memiliki kompetensi dalam perlindungan anak.
Semangatnya sederhana:
Jangan biarkan seorang anak menghadapi perundungan sendirian.
Anak yang menjadi korban bullying bukan anak yang lemah. Mereka adalah anak-anak yang membutuhkan orang dewasa untuk berdiri di samping mereka, mendengarkan suara mereka, melindungi mereka, dan mengembalikan rasa percaya dirinya.
Karena itu, SATGAS STOP BULLYING diharapkan dapat menjadi gerakan bersama yang tidak hanya bergerak setelah peristiwa terjadi, tetapi juga membangun kesadaran sejak dini agar budaya perundungan dapat dicegah dari lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, hingga ruang digital.
Langkah tersebut seolah membuat Caruban Nagari dan Indonesia Raya tersentak.
Publik kembali melihat bahwa di tengah begitu banyak orang yang berbicara tentang kepemimpinan, masih ada sosok yang memilih membuktikan kepeduliannya melalui tindakan.
Bagi sebagian orang, mungkin kebesaran seorang Sultan diukur dari istana, kemegahan, gelar, atau simbol-simbol kekuasaan. Namun bagi Pangeran Kuda Putih, ukuran seorang pemimpin justru berada pada seberapa jauh ia mampu memberikan manfaat bagi rakyatnya.
Ketika ada yang mempertanyakan keberadaan istana dan bahkan melontarkan tudingan bahwa beliau adalah “Sultan yang tidak mempunyai istana”, jawaban beliau justru sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam:
«“Istana leluhur saya sudah mereka ambil sejak 200 tahun lalu. Biarkan istana itu menjadi kenangan historis. Istana saya cukup di mana ada rumah rakyat saya, di sanalah istana saya. Karena bagi saya, istana bukan segalanya. Yang terpenting adalah hati dan pengabdian saya untuk rakyat saya.”»
Kalimat itu mungkin sederhana. Tetapi di baliknya terdapat sebuah pesan besar: bahwa pengabdian tidak membutuhkan kemewahan.
Istana bisa menjadi bangunan. Tahta bisa menjadi simbol. Gelar bisa menjadi panggilan.
Tetapi rakyat adalah amanah.
Dan anak-anak Indonesia adalah masa depan bangsa yang harus dijaga bersama.
Karena itu, kampanye STOP BULLYING yang digagas Pangeran Kuda Putih tidak semestinya hanya dipandang sebagai langkah seorang Sultan, tetapi sebagai seruan kebangsaan kepada seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menghentikan perundungan dan menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak.
Dari Caruban Nagari, pesan itu ingin disampaikan ke seluruh Nusantara:
STOP BULLYING.
STOP PERUNDUNGAN.
SELAMATKAN ANAK-ANAK INDONESIA.
Sebab seorang anak tidak boleh kehilangan masa depannya hanya karena kekerasan dari lingkungan sekitarnya.
Dan seorang pemimpin tidak cukup hanya mengatakan bahwa dirinya mencintai rakyat.
Ia harus hadir ketika rakyat membutuhkan perlindungan.
Bukan ketika semua orang memujinya, tetapi ketika ia tetap memilih berbuat baik meskipun masih ada yang meragukannya.
Bukan ketika ia berada di tempat yang megah, tetapi ketika ia bersedia berdiri bersama mereka yang membutuhkan.
Dan bukan dari seberapa besar istana yang dimilikinya, melainkan dari seberapa luas hati dan pengabdiannya kepada rakyat.
Hari ini, Pangeran Kuda Putih memilih untuk berbicara melalui kepedulian.
Dan mungkin, inilah saatnya kita semua berhenti bertanya di mana istananya.
Sebab bisa jadi, istana itu memang tidak berdiri di atas tanah dan batu.
Istana itu hidup di dalam hati rakyat yang merasa diperhatikan, anak-anak yang merasa dilindungi, dan masyarakat yang merasakan bahwa masih ada seseorang yang mau berdiri bersama mereka.
Karena bagi seorang pemimpin sejati, ketika rakyatnya merasa aman, ketika anak-anaknya terlindungi, dan ketika masyarakatnya merasakan kasih sayang serta pengabdian, di situlah istananya berdiri.
(Perskpktipikor.news)
Wawan irwanto
Sekwil
Kuningan Jawa Barat
