Sambas Kota Tua: Kilau Sejarah yang Meredup dan Panggilan Nurani Para Perantau

Sambas, Selasa, 21 Juli 2026

Sambas menyimpan lembaran sejarah yang teramat megah. Sebagai salah satu pusat peradaban dan Islam tertua di Kalimantan Barat, bumi Sambas melahirkan banyak tokoh besar, ulama kharismatik, cerdik pandai, serta para pemimpin yang kini sukses berkarier di berbagai penjuru perantauan. Dari tangan dan pikiran orang-orang rantau asal Sambas, banyak yang telah menjadi figur ternama di kancah regional maupun nasional.

​Namun, ironi besar tengah terjadi di tanah kelahiran. Di balik deretan nama sukses yang lahir dari rahim bumi Sambas, kondisi fisik daerah asalnya justru seolah berjalan mundur dari tahun ke tahun. Pertanyaan besar yang menggelayut di benak setiap pemerhati sejarah dan masyarakat lokal adalah: mengapa Sambas seakan diabaikan?

​Cagar Budaya dan Keraton yang Terlantar

​Salah satu bukti nyata dari kelesuan perhatian ini tampak jelas pada kondisi kompleks Keraton Kesultanan Kota Sambas. Sebagai jantung historis dan identitas kultural masyarakat Sambas, keraton dan kawasan sekitarnya semestinya menjadi pusat kebanggaan, destinasi wisata sejarah yang hidup, sekaligus simbol peradaban yang dijaga dengan kehormatan tertinggi.

​Kenyataannya, situs-situs cagar budaya tersebut kini tampak merana. Akses infrastruktur pendukung menuju kawasan bersejarah ini berada dalam kondisi yang memprihatinkan—jalan-jalan penghubung mengalami kerusakan parah, berlubang, dan minim pemeliharaan yang layak. Tidak jauh dari situ, fasilitas publik penunjang transportasi air seperti dermaga tradisional yang menjadi urat nadi sejarah perdagangan dan mobilitas warga pun tampak hancur dan terbengkalai.

​Kondisi ini menimbulkan kepedihan mendalam. Bagaimana mungkin sebuah kota tua yang sarat akan marwah kerajaan dan nilai historis tinggi dibiarkan tenggelam dalam keterisolasian infrastruktur?

​Ke Mana Para Cendekiawan dan Tokoh Sambas?

​Sambas tidak pernah kekurangan orang pintar. Kota ini telah lama dikenal sebagai pencetak ulung para cendekiawan, birokrat, akademisi, pengusaha, hingga tokoh politik berpengaruh yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Mereka adalah kaum intelektual yang memiliki kapabilitas, jaringan luas, dan sumber daya yang memadai.

​Namun, timbul sebuah gugatan moral: ke mana para cendekiawan dan perantau sukses ini?

​Seringkali, pembangunan daerah tidak bisa hanya dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah lokal yang memiliki keterbatasan anggaran. Dibutuhkan kepedulian kolektif (sense of belonging) dari putra-putri daerah yang telah sukses di luar sana. Kemajuan sebuah tanah leluhur sangat membutuhkan sentuhan, gagasan kritis, investasi sosial, serta advokasi nyata dari anak-anak kandungnya sendiri yang kini duduk di kursi kekuasaan, panggung nasional, maupun dunia usaha.

​Jika para cerdik pandai hanya menjadi penonton dan melupakan akar sejarahnya, maka perlahan tapi pasti, warisan leluhur Sambas akan musnah ditelan zaman. Kejayaan masa lalu hanya akan tinggal dongeng yang diceritakan tanpa wujud fisik yang bisa disaksikan generasi masa depan.

​Sebuah Seruan untuk Bangkit

​Sambas Kota Tua tidak boleh dibiarkan mati perlahan. Sudah saatnya lonceng kepedulian dibunyikan lebih keras. Perbaikan akses jalan menuju keraton, rehabilitasi dermaga, dan revitalisasi cagar budaya harus menjadi agenda mendesak yang melibatkan sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat lokal, dan para diaspora Sambas di perantauan.

​Kepada para pemimpin, para dermawan, para cerdik pandai, dan seluruh kaum intelektual berdarah Sambas: tengoklah sejenak tanah leluhurmu. Panggil kembali nurani untuk merawat warisan para sultan dan pejuang terdahulu. Jangan biarkan sejarah besar Sambas runtuh hanya karena abai dalam merawatnya. Sambas memanggil kepedulian kita semua—sekarang, sebelum semuanya terlambat.

Editor: M.ASRUF AZ.SE

Jurnalist: M.ASRUF AZ.SE #perskpknews.com