Bupati Seolah Menanam Bibit Perpecahan, Tokoh Adat Katapiang Soroti Gaya Kepemimpinan John Kenedy Azis

PADANG PARIAMAN — Pucuak adat nan berulayat di Katapiang, Bahrum Hikmah Rangkayo Rajo Sampono, angkat bicara mengenai dinamika kepemimpinan di Kabupaten Padang Pariaman. Ia dengan tegas menyebut bahwa Wakil Bupati Rahmat Hidayat seperti “makan hati” dalam menjalankan perannya di pemerintahan daerah saat ini.

Bupati dan Wakil Bupati John Kenedy Azis dan Rahmat Hidayat adalah kepala daerah. Keduanya seharusnya saling berkomunikasi dan berkoordinasi dengan baik. Bukan memperlakukan wakil bupati dengan cara yang tidak pantas,” ujar Rajo Sampono, Sabtu (4/10/2025).

Menurutnya, kondisi yang terjadi saat ini mencerminkan ketidakharmonisan di lingkup pimpinan daerah. “Setiap orang yang meminta bantuan atau mengajukan kepentingan, oleh bupati diarahkan ke Wabup. Namun pada kenyataannya, Wabup tidak memiliki kewenangan untuk menindaklanjuti hal itu,” tegasnya.

Ia menilai, tindakan seperti itu justru menimbulkan kesan buruk dan merusak citra kepemimpinan daerah. “Ini sama saja bupati mengkambinghitamkan wakilnya. Banyak masyarakat datang kepada Wabup dengan berbagai harapan, entah urusan kenaikan pangkat atau pekerjaan, tapi semuanya berujung kecewa karena kewenangan itu tidak benar-benar diberikan. Yang berkuasa tetap satu orang saja — Bupati John Kenedy Azis,” sebut Rajo Sampono.

Rajo Sampono menyebut, jika situasi ini terus berlanjut, maka dikhawatirkan akan terjadi gejolak di internal pemerintahan. “Ini bentuk pembusukan terhadap Wabup. Saya khawatir kalau Wabup Rahmat Hidayat ini akhirnya melawan, maka keadaan bisa menjadi runyam. Bupati John Kenedy Azis harus berhati-hati,” ujarnya mengingatkan.

Sebagai tokoh adat, ia juga menyoroti gaya kepemimpinan John Kenedy Azis yang dinilainya belum mencerminkan kematangan seorang kepala daerah. “Meski sudah berpengalaman 10 tahun di DPR RI, John Kenedy Azis sepertinya perlu belajar dulu menjadi bupati. Saya lihat kepemimpinannya justru menyemai suasana tidak sehat,” ungkapnya.

Rajo Sampono menilai kebijakan yang diterapkan bupati saat ini justru menimbulkan jarak antar pemimpin. “Bupati seolah menanam bibit perpecahan, memperhantukkan wakilnya dengan berbagai pihak. Itu tidak elok,” katanya.

Ia juga menyinggung persoalan internal seperti pembagian peran dalam kebijakan daerah dan persoalan Baznas yang dinilai tidak transparan. “Dari awal kita inginkan formasi 3-2 dalam Baznas, tapi yang terjadi justru permainan 4-1. Ini menunjukkan adanya praktik tidak sehat dan dominasi sepihak dari bupati,” tegasnya.

Rajo Sampono berharap, hubungan antara bupati dan wakil bupati segera dibenahi demi kemaslahatan masyarakat Padang Pariaman. “Masyarakat sudah cerdas menilai. Jangan sampai kepemimpinan yang seharusnya membawa kesejahteraan justru menimbulkan perpecahan,” tutupnya. red