Ada momen dalam hidup ketika tanganmu diminta menulis sesuatu yang hatimu tak percaya. Ketika kerja kerasmu, yang lahir dari keringat dan dedikasi, tiba-tiba diseret paksa untuk melayani kepentingan orang yang duduk di atas kekuasaan—bukan untuk kebenaran, bukan untuk kebaikan bersama, tapi untuk kepentingan segelintir orang.
Dan kau membiarkannya.
Kau tahu itu salah. Kau tahu integritasmu sedang dipertaruhkan. Tapi rasa takut, tekanan, atau sekadar lelah melawan membuatmu diam. Membiarkan karyamu—yang seharusnya jadi cerminan dirimu—berubah menjadi alat kepentingan orang lain.
Sungguh disayangkan.
Karena harga diri bukan sesuatu yang kau punya sekali lalu selesai. Ia diuji setiap kali kau dihadapkan pada pilihan: diam atau bersuara, tunduk atau berdiri tegak, mengalah pada tekanan atau mempertahankan apa yang kau yakini benar.
Setiap kali kau membiarkan sesuatu yang penting dikerjakan sembarangan demi menyenangkan penguasa, sedikit demi sedikit kau kehilangan bagian dari dirimu sendiri. Dan bagian itu tidak mudah kembali.
Tapi ingatlah ini: belum terlambat. Setiap hari adalah kesempatan baru untuk memilih ulang. Untuk berkata “tidak” pada kompromi yang merusak jiwa. Untuk mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati, bukan karena dipaksa, tapi karena kau tahu itu benar.
Karena pada akhirnya, dunia tidak akan mengingat seberapa besar kekuasaan yang kau layani—dunia akan mengingat seberapa teguh kau berdiri ketika semua orang memintamu untuk berlutut.
Bangkitlah. Pertahankan karyamu. Pertahankan dirimu. Karena itulah satu-satunya hal yang benar-benar milikmu.
Ketika Karya Dipaksa Tunduk pada Kepentingan, di Situlah Jiwa Diuji
