Padang Pariaman —
Pemberian penghargaan kepada sejumlah relawan dalam penanganan bencana banjir dan longsor menuai kritik tajam dari masyarakat terdampak. Pasalnya, hingga kini proses pemulihan dinilai belum sepenuhnya selesai, sementara kondisi korban masih jauh dari kata puliSejumlah warga korban bencana mengaku kecewa atas digelarnya acara penghargaan tersebut. Mereka menilai langkah tersebut tidak tepat waktu dan terkesan mengabaikan penderitaan korban yang masih bergulat dengan dampak bencana, mulai dari kerusakan rumah, kehilangan mata pencaharian, hingga trauma psikologis.
“Pemulihan belum tuntas, bantuan masih belum merata, tapi sudah ada penghargaan. Ini menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat,” ujar salah seorang warga terdampak banjir.

Kritik juga mengarah pada penilaian bahwa penghargaan tersebut tidak tepat sasaran. Di lapangan, masih banyak relawan dan masyarakat lokal yang bekerja secara sukarela sejak hari pertama bencana, namun justru tidak tersentuh apresiasi. Kondisi ini memicu kecemburuan sosial dan gejolak di tengah masyarakat.
Tokoh masyarakat setempat menilai, dalam situasi darurat dan pascabencana, fokus utama seharusnya adalah pemulihan menyeluruh, bukan seremonial. Menurutnya, penghargaan dapat diberikan setelah seluruh korban benar-benar pulih dan kehidupan masyarakat kembali normal.

“Penghargaan itu baik, tapi waktunya harus tepat. Saat luka masyarakat belum sembuh, acara seperti ini justru melukai perasaan korban,” tegasnya.
Masyarakat berharap pemerintah daerah lebih peka terhadap kondisi psikologis dan sosial korban bencana. Transparansi, keadilan dalam penyaluran bantuan, serta percepatan pemulihan dinilai jauh lebih mendesak dibandingkan kegiatan simbolis.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pemerintah daerah belum memberikan penjelasan resmi terkait dasar dan urgensi pemberian penghargaan tersebut. Warga pun mendesak agar evaluasi kebijakan dilakukan demi menjaga kepercayaan publik dan memastikan penanganan bencana berjalan secara adil dan manusiawi.
