Padang Pariaman, Sumatera Barat (6/7.2025)— Majlis Tahlil dan do’a Akbar yang digagas oleh para ulama dan jamaah Tarekat Syatariah bersanad ka syceh burhanudin(ulakan)terus berlangsung semanjak tahun 2023 sampai sekarang secara rutin diadakan sekali dalam bulan di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Kegiatan ini digelar pada malam hari bergiliran dari surau kasurau, gubah-kagubah (makam) para ulama besar Syatariah,sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa mereka dalam membimbing umat serta meneguhkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.
Tahlil akbar ini tidak sekadar menjadi ajang ritual keagamaan, tetapi juga menjadi medium penguatan spiritual, budaya, dan ideologi umat. Dalam setiap pelaksanaannya, para jamaah menggelar pembacaan ayat suci Al-Qur’an, tahlil, zikir bersama, serta mendengarkan tausiyah dari para mursyid dan ulama. Kegiatan ini diyakini sebagai ikhtiar batin untuk menolak bala, menjaga ketenangan batin masyarakat, dan mempererat hubungan umat dengan para pewaris Nabi, yakni ulama.
Lebih dari itu, majlis tahlil ini juga memegang peran penting dalam mencegah berkembangnya paham-paham radikal dan intoleran yang dapat mengancam kehidupan beragama dan memecah belah umat.Melalui pendekatan spiritual dan budaya lokal Minangkabau yang bersandikan “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, jamaah Syatariah menegaskan posisi Islam yang damai dan sejuk di tengah keberagaman.
> “Kita ingin warisan para ulama Syatariah ini tidak hanya dihafal, tapi dihidupkan.Tahlilan ini adalah cara kita menyambung sanad spiritual dengan ulama salaf kita terutama bersanad ka ulakan dan sekaligus memperkuat benteng moral masyarakat dari pengaruh ideologi yang menyimpang,” ujar salah satu tuanku Syatariah dalam ceramahnya.
Kegiatan ini mendapat sambutan luas dari masyarakat, tokoh adat, serta pemuda setempat. Banyak yang melihat majlis ini sebagai alternatif edukasi agama yang membumi, berakar pada tradisi, namun tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman.
Dengan semangat kebersamaan dan keikhlasan, Tahlil Akbar Syatariah telah menjadi penjaga nadi keislaman Minangkabau yang moderat, damai, dan inklusif. Para jamaah berharap kegiatan ini akan terus berlangsung lintas generasi dan menjadi bagian dari ketahanan spiritual umat di Sumatera Barat.
@iyaldi kpk tipikor news
