Ahad, 17 Maret 2024. 03:34 WIT.
HAL-TENG PERSKPKNEWS.COM.
Setelah Pemilu 2024, ada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 untuk memilih kepala daerah dan wakil kepala daerah.
Tahapan Pilkada 2024 tertuang dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 2 Tahun 2024 tentang Tahapan dan Jadwal Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2024.
Nah, penulis melihat sangat menarik diamati, adalah gencarnya sejumlah kalangan mensosialisasikan lewat media sosial berupa postingan secara masif mempromosikan bakal calon kepala daerah secara terang-terangan, pada hal notabene yang dipromosikan
merupakan kalangan ASN/birokrasi aktif.
ASN/Birokrasi Berada ditengah Pusaran Politik Pilkada Halmahera Tengah.
Kalangan birokrasi yang digadang-gadang akan maju dalam kontestasi Pilkada. Tak percaya? coba buka facebook Pj Bupati dipaketkan bersama Kaban Bapenda.
Meski begitu, perpolitikan itu tak bisa ditebak seperti sikulit bundar (Bola). Terlintas dipikiran, dan menjadi pertanyaan, beranikah Pj Bupati memilih mundur dari jabatannya yang mentereng?
Pertanyaan berikut, beranikah
Kaban Bapenda melepas jabatanna dari ASN?
Artinya, apakah ada yang bakal legowo memilih mundur…..? entahlah, hanya mereka yang tahu.
Penulis juga menilai, saat ini mental kita disuguhi dengan dandanan baliho. Sebagian berfikir dengan baliho bisa mengibuli, bahkan asumsi dari sebagian kalangan baliho adalah ritual mengubah nasib bagi para pemasang.
Penulis juga melihat perjuangan yang didengungkan sebelumnya bahwa, Putra Sawai harga mati untuk menuju Pilkada, pada hal itu semua hanyalah bahan untuk menjajakan kata-kata pujian.
Sudah barang tentu pujian dijual tidak mewakili realitas seperti termaktub dalam makna perjuangan. Tetapi pujian sesungguhnya milik pemuji.
Fenomena penjualan pujian secara terstruktur, sistematis, dan masif. Puji memuji sangat bombastis bahkan dikemas manis, bahkan komitmen sebelumnya terlupakan, yaitu perjuangan putra sawai.
Saat ini penulis melihat baliho sebagai pemanfaatan post-truth, era dimana generasi saat ini mendewakan pujian. Oleh karena bagi masyarakat yang tidak mengetahui cenderung menelan informasi tanpa kunyah.
Penulis juga menilai, “baliho hanya menawarkan riang semata.
Bahkan baliho merupakan suatu usaha untuk menggiring opini masyarakat pada tujuan tertentu”.
Oleh karena hal tersebut, penulis berharap agar masyarakat tidak tergiring untuk memilih pemimpin karbitan, tapi pemilih harus menentukan pilihan secara alamiah.
Semoga konstruksi pemikiran imajiner tak terkontaminasi ke tiap pemilih.
Bagi penulis, pencitraan hanyalah pemanfaatan ruang dalam
mengawinkan strategi serta menyesaki atmosfer media sosial. Tersemogakan, citra calon pemimpin tidak berada pada ilusif semata.
Mengakhiri semua itu, penulis menitipkan pesan, “kiranya setiap pemilih tidak tersesat saat berselancar pada baliho dan pemilih cerdas jangan terbuai pepesan kosong”.
Generasi Fagogoru Generasi Cerdas.
Selamat Menjalangkan Ibadah Puasa.
Editor: Rosihan Anwar.
Penulis: Rusli Ishak.
