
Pontianak, Kamis, 20 Agustus 2026
Bagi Allah Tidak Ada yang MustahilApabila Allah menghendaki sesuatu, Dia hanya berfirman kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Yasin: 82).
Inilah yang dialami seorang bernama Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag.
Ada kisah-kisah kehidupan yang mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari perjalanan. Kisah itu mengingatkan bahwa kemiskinan tidak mampu mengalahkan tekad, kehilangan tidak mampu memadamkan harapan, dan seorang anak yatim pun dapat mengukir sejarah.
Kisah itu adalah perjalanan hidup Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag, yang pada bulan Agustus 1976 ia menjadi seorang anak yatim ditinggal wafat oleh ayahnya M. Sayadi di saat baru masuk kelas satu Madrasah Ibtidaiyah atau Sekolah Dasar, dan 50 tahun kemudian pada 6 Agustus 2026 lalu resmi dilantik oleh Menteri Agama Republik Indonesia sebagai Rektor IAIN Pontianak periode 2026–2030.

Di balik toga profesor dan amanah sebagai rektor sebuah perguruan tinggi Islam negeri terbesar di Kalimantan Barat, tersimpan perjalanan hidup yang penuh hikmah, dengan air mata, keringat, perjuangan, dan pengorbanan.
Wajidi Sayadi adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Karena keterbatasan ekonomi keluarga, hanya dialah yang memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Kesempatan itu tidak datang dengan mudah, tetapi diperjuangkan dengan kerja keras dan doa tulus seorang ibu yang tiada henti.
Ketika Wajidi masih duduk di kelas satu Madrasah Ibtidaiyah Bonde Campalagian Polman Sulawesi Barat, sebuah peristiwa besar mengubah jalan hidupnya.
Pada Sabtu, 21 Agustus 1976, sang ayahanda tercinta, M. Sayadi, wafat. Sejak hari itu, Wajidi kecil menjalani kehidupan sebagai seorang anak yatim.
Agustus menjadi bulan yang menyimpan kenangan sejarah yang terlupakan, mungkin juga luka terdalam dalam hidupnya. Namun Allah memiliki cara yang indah untuk mengubah kesedihan menjadi kemuliaan.
50 tahun kemudian, masih di bulan Agustus, tepatnya 6 Agustus 2026, Allah mengangkat anak yatim itu menjadi seorang Rektor. Bulan yang dahulu dipenuhi air mata kini menjadi bulan penuh syukur dan kebahagiaan, tapi juga tantangan tanggung jawab.
Masa kecil Wajidi jauh dari kemewahan. Sepulang sekolah, ia tidak bermain seperti anak-anak seusianya. Ia justru memikul tanggung jawab membantu keluarga. Dengan sebuah termos yang digendong di tangan kiri dan lonceng kecil di tangan kanan, ia berkeliling kampung menjajakan es tonton. Di bawah terik matahari, langkah-langkah kecilnya bukan sekadar mencari nafkah, tetapi sedang membangun mental perjuangan menatap masa depan.
Perjuangan itu belum berhenti.
Salah seorang kakaknya bekerja sebagai kusir bendi. Ketika sang kakak sakit, Wajidi yang masih berstatus murid sekolah dasar menggantikannya mengendalikan bendi. Anak kecil itu belajar bertanggung jawab sebelum usianya cukup untuk memahami beratnya kehidupan. Ia mengantar penumpang dengan penuh kesungguhan demi membantu keluarganya bertahan hidup.
Siapa yang menyangka, tangan kecil yang dahulu menggenggam lonceng penjual es dan memegang tali kekang kuda bendi, kelak akan menggenggam tongkat kepemimpinan sebuah perguruan tinggi Islam negeri.
Anak yang dahulu berjuang di jalanan akhirnya berdiri di mimbar akademik sebagai guru besar dan pemimpin ribuan mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan.
Bahkan sebelum dilantik menjadi Rektor, Wajidi Sayadi sudah berhasil mengunjungi sekitar 20 negara, seperti Arab Saudi, Mesir, Yordania, Palestina, Qatar, Amerika Serikat, Tiongkok Beijing, dan beberapa negara Eropa, seperti Prancis, Belgia, Belanda, Jerman, Swiss, Luxemburg, Austria, Italia, di Asia Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam.
Perjalanan hidup ini bukan sekadar kisah tentang kesuksesan seseorang. Ini adalah bukti bahwa Allah mampu mengangkat derajat siapa saja yang bersungguh-sungguh, bersabar, dan tidak pernah berhenti berharap kepada-Nya.
Kemiskinan bukan penghalang untuk meraih ilmu.
Status sebagai anak yatim bukan alasan untuk menyerah.
Pekerjaan sederhana bisa saja menjadi pemicu dan penentu masa depan.
Yang menentukan masa depan adalah pertolongan Allah yang menyertai usaha, doa, kejujuran, ketekunan dan keikhlasan.
Jabatan profesor dan rektor bukanlah hadiah yang datang tiba-tiba. Semua itu adalah buah dari perjalanan panjang yang ditempuh dengan kerja keras, kesabaran, disiplin, keikhlasan, doa orang tua, doa para guru, serta keyakinan bahwa setiap langkah kecil akan bernilai besar di sisi Allah.
Kisah ini menjadi pesan bagi setiap anak Indonesia, terutama mereka yang lahir dari keluarga sederhana:
jangan pernah malu dengan keadaanmu hari ini.
Jangan pernah berhenti bermimpi hanya karena keterbatasan.
Teruslah belajar, bekerja keras, berdoa, dan bertawakal.
Karena sesungguhnya, yang mengubah nasib manusia bukanlah kekayaan, bukan pula keturunan, melainkan izin Allah yang datang kepada hamba-hamba-Nya yang terus berikhtiar dan bersyukur.
Dari seorang anak yatim, penjual es keliling. kusir bendi cilik, menjadi Professor.
Dari kehidupan yang serba terbatas, menjadi Rektor IAIN Pontianak.
Semua itu menjadi bukti nyata bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil.
Semoga kisah ini menjadi inspirasi bahwa setiap air mata perjuangan tidak pernah sia-sia, setiap doa yang dipanjatkan akan menemukan waktu dan momentumnya, dan setiap kesabaran dan kesyukuran akan berbuah kemuliaan.
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2–3)
Bagi Allah, tidak ada yang mustahil.
Pontianak, 19 Agustus 2026
Sumber Berita:
Prof.DR.H.Wajidi Sayadi, M.Ag
Jurnalis: Abah M.Asruf Aziz #perskpknews.com
