Skandal Makanan Bergizi di Kubu Raya: Ulat Hidup Ditemukan dalam Wadah Saji, Warga dan Kades Murka

Kelalaian Pengawasan Program Makan Bergizi di Selat Remis Menuai Kecaman Keras, Warga Desak Kepala SPPG Segera Dicopot

 

Wartawan / Redaktur:

Abah M.Asruf Aziz.SE/perskpknews.com

Sumber Berita: Fauzi (Warga Desa Sungai Nipah, Kec. Teluk Pakedai)

Lokasi Kejadian: Desa Selat Remis, Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat

 

Kubu Raya, 10 Agustus 2026

Program Makan Bergizi yang digadang-gadang untuk meningkatkan kesehatan anak-anak sekolah di Kabupaten Kubu Raya justru berbuah polemik tajam.

Hal ini menyusul ditemukannya sejumlah ulat yang masih hidup di dalam wadah makanan siap saji yang hendak dihidangkan kepada para siswa di Desa Selat Remis, Kecamatan Teluk Pakedai.

Temuan mengejutkan ini langsung memicu kemarahan besar dari Kepala Desa setempat serta warga sekitar. Wadah makanan yang seharusnya steril dan memenuhi standar gizi layak konsumsi justru ditemukan kontaminasi berupa ulat hidup, yang menandakan lemahnya standar operasional prosedur (SOP) dan sistem pengawasan di dapur penyedia.

 

Kutipan / Pernyataan Narasumber (Fauzi, Warga Desa Sungai Nipah):

 

“Jangan jadikan anak-anak didik sekolah sebagai kelinci percobaan yang disuruh makan ulat. Ini sungguh sangat ironis sekali!” ujar Fauzi, seorang warga Desa Sungai Nipah dengan nada geram menanggapi insiden tersebut.

 

Insiden ini dinilai mencoreng esensi utama program pemenuhan gizi anak. Publik menyoroti kinerja internal pengelola dan menduga adanya faktor kelalaian akibat kurangnya kompentensi pengurus dalam menjaga kebersihan serta higienitas pangan.

 

Tuntutan Tegas Warga: Melihat fatalnya kelalaian tersebut, warga dan perangkat desa mendesak agar Kepala SPPG Dapur Makan Bergizi Selat Remis segera dicopot dan digantikan oleh figur yang benar-benar profesional serta berkompeten di bidang tata boga dan pengawasan pangan.

 

Pesan Moral / Evaluasi: Warga mengingatkan agar posisi strategis dalam pengelolaan program kesejahteraan anak tidak hanya diisi oleh pihak yang tergiur dengan besaran gaji atau insentif semata, melainkan harus diimbangi dengan tanggung jawab moral yang tinggi terhadap keselamat

an anak-anak bangsa.