- Ini

Setiap kali memperingati hari besar nasional, linimasa media sosial kita mendadak riuh oleh kutipan legendaris Bung Karno: “Jasmerah—Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.” Namun, mari jujur pada diri sendiri: apakah kita benar-benar merawatnya, atau sekadar menjadikannya pemanis estetika demi terlihat nasionalis?
Ada ironi yang tumbuh subur di tengah masyarakat kita hari ini. Kita mengklaim diri sebagai bangsa yang besar, tetapi di saat yang sama, kita mengidap gejala amnesia kolektif yang akut.
Kita gemar merayakan kemenangan masa lalu, tetapi gagap—bahkan cenderung malas—merawat ingatan tentang bagaimana kemenangan itu dirajut.
Sejarah lambat laun menyusut, dari yang semula berupa api perjuangan dan dialektika pemikiran, kini merosot hanya menjadi deretan angka tahun yang harus dihafal demi lulus ujian sekolah.
Museum Sepi, Mal Ramai
Indikator paling telanjang dari kegemaran kita “membuang” masa lalu bisa dilihat dari bagaimana kita memperlakukan situs ingatan. Koleksi museum kita sering kali dibiarkan berdebu, sepi pengunjung, dan kalah pikat dengan pusat perbelanjaan atau tempat wisata buatan yang lebih instagramable.
Kita lebih akrab dengan nama-nama jalan di kota besar ketimbang pemikiran tokoh di balik nama tersebut. Kita tahu Tan Malaka, Sjahrir, atau Kartini, tapi berapa banyak dari kita yang benar-benar membaca pemikiran mereka secara utuh?
Akibatnya, sejarah yang sampai ke generasi hari ini adalah sejarah yang telah mengalami domestikasi—sejarah yang sudah dijinakkan, dipotong-potong, dan dibuang bagian-bagian yang dianggap “terlalu rumit” atau “tidak sejalan dengan narasi penguasa”.
Kita melupakan bahwa fondasi negara ini dibangun oleh darah, air mata, dan yang terpenting: perdebatan intelektual yang luar biasa kaya. Kita membuang esensi dan hanya menyisakan kulit luarnya saja.
Bahaya Kolektif yang Mengintai
Mengapa gemar melupakan masa lalu adalah sebuah kenaifan yang berbahaya? Jawabannya sederhana: bangsa yang amnesia adalah bangsa yang mudah dimanipulasi.
Ketika kita buta terhadap akar konflik masa lalu, kita akan mudah diadu domba oleh polarisasi politik hari ini.
Ketika kita lupa bagaimana para pendiri bangsa yang berbeda agama, suku, dan ideologi bisa duduk bersama merumuskan Pancasila, kita akan dengan mudah mengusir sesama saudara hanya karena perbedaan pilihan.
Masa lalu bukan sekadar urusan romantisasi atau nostalgia cengeng. Sejarah adalah kompas. Tanpanya, kita seperti kapal megah di tengah samudra yang kehilangan nakhoda dan alat navigasi; bergerak cepat, memiliki mesin canggih, tetapi tidak tahu sedang menuju ke mana.
Menghidupkan Kembali Ingatan
Mengubah kebiasaan “membuang masa lalu” tidak bisa lagi menggunakan cara-cara usang. Memaksa generasi muda membaca buku teks sejarah yang tebal dan kaku hanya akan memperpanjang daftar penolakan.
Sejarah harus “dihidupkan” kembali. Narasi sejarah perlu dialihwahanakan ke dalam bentuk-bentuk yang dekat dengan kultur hari ini: melalui sinematografi yang jujur, podcast yang mendalam, artikel populer yang tajam, hingga konten visual di media sosial.
Sejarah harus didekatkan sebagai cerita tentang manusia—dengan segala kelebihan, kekurangan, dan konfliknya—bukan sebagai dongeng tentang dewa-dewa yang tanpa cela.
Kesimpulan
Pada akhirnya, menjadi Indonesia bukan sekadar urusan memegang paspor atau fasih menyanyikan lagu kebangsaan.
Menjadi Indonesia adalah tentang menerima warisan ingatan kolektifnya—baik yang indah maupun yang kelam.
Sebelum kita melangkah terlalu jauh menuju masa depan yang katanya “Indonesia Emas”, ada baiknya kita berhenti sejenak dan menengok ke belakang.
Jangan sampai kita menjadi bangsa yang kaya secara materi, namun miskin identitas karena dengan sengaja membuang kunci rumah masa lalu kita sendiri. Sebab, bangsa yang lupa ingatan dan gemar membuang masa lalunya, cepat atau lambat akan dikutuk untuk mengulang kesalahan yang sama.
Editor: Abah M.ASRUF AZIZ.SE
Media: perskpknews.com
