TEHERAN, PERSKPKNEWS.COM – Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran telah memicu ketegangan tinggi di kawasan Timur Tengah.
Operasi ini, yang diberi nama sandi “Roaring Lion” oleh Israel dan “Epic Fury” oleh Departemen Pertahanan AS, menargetkan berbagai lokasi di Iran, termasuk kompleks kediaman Ayatollah Ali Khamenei.
Kronologi Serangan ini terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026, sekitar pukul 09:45 waktu setempat, setelah intelijen AS dan Israel mendeteksi pertemuan kepemimpinan tingkat tinggi Iran.
Jet tempur Israel dan rudal AS digunakan dalam serangan ini, yang menargetkan sistem pertahanan udara dan peluncur rudal Iran.
Serangan ini merupakan eskalasi terbaru dalam konflik antara Iran dan AS-Israel. Ketegangan antara kedua belah pihak telah meningkat sejak penarikan diri AS dari perjanjian nuklir Iran pada 2018.
Iran telah meningkatkan produksi uranium dan pengembangan rudal balistik, yang dipandang sebagai ancaman oleh AS dan Israel.
Intelijen Amerika Serikat dan Israel dilaporkan mendeteksi tiga pertemuan kepemimpinan tingkat tinggi Iran yang berlangsung secara bersamaan pada Sabtu pagi, momen yang dinilai sangat langka dan strategis.
Informasi tersebut menjadi dasar keputusan untuk melancarkan serangan udara besar besaran tanpa menunggu waktu malam, menurut laporan Wall Street Journal.
Sumber yang mengetahui operasi tersebut menyebutkan bahwa target utama mencakup lokasi yang dikaitkan dengan Ayatollah Ali Khamenei, bersamaan dengan dua titik lain yang menampung pejabat senior Iran.
Jet tempur Israel dilaporkan menjatuhkan sekitar 30 bom di kompleks yang diyakini terkait dengan lingkaran kepemimpinan tertinggi.
Sejumlah pejabat penting Iran, termasuk penasihat keamanan Ali Shamkhani, komandan IRGC Mohammad Pakpour, dan Menteri Pertahanan Amir Nasirzadeh, disebut turut menjadi korban dalam operasi tersebut, meski belum ada konfirmasi independen dari pihak Iran.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa pada Kamis malam, utusan AS memberi tahu Presiden Donald Trump bahwa pembicaraan dengan Teheran menemui jalan buntu.
Iran disebut menolak menghentikan pengayaan uranium maupun membatasi program rudalnya.
