Di Negeri Orang Ia Menangis, di Hati Anaknya Ia Bertahan Kisah Sutirah, TKW Asal Indramayu yang Mengorbankan Segalanya Demi Anak

 

Taiwan— Tidak semua perempuan diberi pilihan hidup yang mudah. Bagi Sutirah, seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Kabupaten Indramayu, hidup adalah rangkaian ujian yang datang silih berganti. Namun dari semua cobaan itu, ia hanya memiliki satu pegangan: anak semata wayangnya.

Saat anaknya masih bayi, rumah tangga Sutirah justru berada di titik paling rapuh. Ia harus berpisah dengan suaminya di saat dirinya membutuhkan dukungan, biaya hidup, dan ketenangan. Dalam keadaan serba kekurangan, anaknya diasuh oleh kedua orang tua Sutirah. Ayah dan ibunya menjadi pelindung, sekaligus tempat bergantung di tengah badai kehidupan.
Keterbatasan ekonomi membuat orang tua Sutirah mengambil keputusan yang amat berat. Sawah dan ladang—harta terakhir keluarga—rela dijual agar Sutirah bisa mengurus keberangkatan bekerja ke luar negeri. Ayahnya, yang saat itu dalam kondisi sakit, tetap memaksakan diri demi masa depan cucunya.
Dengan niat menjadi TKW di Taiwan, Sutirah mengurus segala persyaratan. Namun cobaan kembali datang. Kondisi kesehatannya yang menurun membuat pihak imigrasi menolak keberangkatannya. Pada saat bersamaan, ayahnya juga jatuh sakit. Dunia terasa runtuh, namun Sutirah memilih tidak menyerah.

Dengan tekad seorang ibu, ia berobat dan merawat ayahnya. Perlahan, kesehatan mereka pulih. Setelah dinyatakan sehat wal afiat, Sutirah akhirnya berangkat ke Taiwan, meninggalkan anaknya dalam asuhan kakek dan nenek yang penuh cinta.
Di negeri orang, Sutirah bekerja dalam sunyi. Rindu dan lelah ia simpan sendiri. Hingga suatu hari, kabar paling menyayat datang—ayah yang selama ini menjadi sandaran hidupnya meninggal dunia. Sutirah hanya bisa menangis di tanah asing, tanpa sempat menggenggam tangan ayahnya untuk terakhir kali. Penyesalan, duka, dan kehilangan menyatu dalam hatinya.
Sepulang dari Taiwan, demi anak, Sutirah dan suaminya memutuskan rujuk kembali. Suaminya sendiri juga bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) dan terakhir bekerja di Brunei Darussalam. Mereka mencoba merajut ulang rumah tangga yang pernah retak, berharap dapat memberi keluarga yang utuh bagi anak tercinta.

Namun kebahagiaan itu kembali diuji. Sang suami meninggal dunia, meninggalkan Sutirah harus kembali berdiri sendiri sebagai seorang ibu tunggal. Untuk bertahan hidup dan memastikan masa depan anaknya, Sutirah kembali merantau ke Taiwan.

Meski menyandang status janda, Sutirah tidak pernah memikirkan kepentingan pribadi, apalagi hasrat untuk dirinya sendiri. Seluruh hidupnya ia abdikan untuk satu tujuan: anaknya. Ia bekerja bukan untuk kemewahan, melainkan agar anaknya tumbuh tanpa kekurangan dan tidak mewarisi luka hidup yang sama.

Alhamdulillah, waktu berjalan. Kini anak Sutirah telah beranjak remaja. Dari kejauhan, ia menyaksikan buah hatinya tumbuh—menjadi alasan terkuat untuk bertahan. Sutirah menyimpan harapan sederhana: setelah masa kontraknya di Taiwan berakhir, ia tidak ingin merantau lagi. Ia ingin pulang dan hadir sepenuhnya sebagai seorang ibu.

Kisah Sutirah bukan tentang kesedihan semata, melainkan tentang ketulusan. Ia kehilangan ayah, suami, dan banyak waktu bersama anaknya.

Namun ia tidak pernah kehilangan arah. Di balik air mata seorang TKW, tersimpan doa seorang ibu yang hanya ingin satu hal—anaknya hidup lebih baik dari dirinya.

By rizal