Perkpknews|Bandung, 9 Oktober 2024 – Indonesia menghadapi tantangan serius terkait ketergantungan pada impor beras yang mencapai 3,5 juta ton per tahun. Namun, program inovatif bernama Budi Daya Digjaya memberikan solusi konkret bagi kedaulatan pangan nasional. Pada acara panen raya yang diadakan hari ini di Kolam Renang Islami Ciherang Indah, Desa Kiangroke, Kabupaten Bandung, hasil panen tercatat mencapai 35 ton per hektar per tahun dan konsisten selama empat tahun terakhir.
Acara ini dipimpin oleh Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., Ketua Dewan Pengurus Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), yang bersama para pejabat dan tokoh nasional lainnya ikut serta melakukan panen langsung di tengah sawah, menegaskan dukungan penuh terhadap program ini sebagai langkah penting dalam mencapai kedaulatan pangan Indonesia.
Kehadiran Pejabat Penting dan Tokoh Nasional
Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Ahmad Heryawan, mantan Gubernur Jawa Barat, serta pejabat dari Kementerian Pertanian RI, Badan Pangan Nasional RI, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Investasi/BKPM RI, Badan Urusan Logistik (Bulog), Badan Gizi Nasional RI, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Direktur Pertanian dan Pangan Bappenas.
Hadir pula Kepala Desa Kamasan, Bapak Mamat, serta Ketua Gerakan Pilihan Sunda (Gerpis), Adri Perkasa Kartaprawira. Selain itu, perwakilan dari institusi pendidikan seperti Institut Pertanian Bogor (IPB), Ikopin Universiti, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), dan Universitas Islam Nusantara (Uninus) juga turut hadir.
Pentingnya Diversifikasi Sumber Pangan
Dalam acara tersebut, Fadli Zon menekankan pentingnya diversifikasi sumber pangan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. “Kita perlu memanfaatkan berbagai sumber pangan seperti daging, ayam, telur, dan ikan, serta karbohidrat yang tidak hanya bergantung pada beras,” ujarnya.
Fadli juga menekankan, “Indonesia tidak perlu lagi mengimpor beras, karena hal tersebut merugikan perekonomian dan petani lokal. Bulog harus lebih memprioritaskan penyerapan beras dari petani kita.” Ia berharap harga gabah kering panen (GKP) dapat meningkat setidaknya 30%, memberikan keuntungan lebih bagi petani.
Kolaborasi untuk Mencapai Kedaulatan Pangan
Program Budi Daya Digjaya merupakan hasil kolaborasi antara Gerakan Pilihan Sunda (Gerpis) dan PT Thara Jaya Niaga, yang dipimpin oleh Direktur Diyan Anggraini. Program ini mengintegrasikan teknologi pertanian modern dengan praktik budi daya unggul, sehingga mampu mencapai produktivitas panen hingga 35 ton per hektar per tahun, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 5-6 ton per hektar.
Para tokoh dari Gerakan Pilihan Sunda dan stakeholder PT Thara Jaya Niaga turut serta dalam acara ini, sementara media massa, termasuk H.U. Pikiran Rakyat, Kompas Jawa Barat, Detik.com, TVRI Jawa Barat, Majalah Trubus, Majalah Agrina, serta perskpknews, hadir untuk meliput acara panen raya ini.
Momentum Penting untuk Swasembada Pangan
Fadli Zon juga mengingatkan tentang tantangan yang dihadapi sektor pertanian, terutama rendahnya partisipasi generasi muda. “Usia rata-rata petani saat ini cukup tua, sehingga kita perlu menarik generasi muda untuk terlibat kembali dalam pertanian. Pertanian merupakan tulang punggung keberlangsungan pangan dan ekonomi kita,” ungkapnya.
Keberhasilan program Budi Daya Digjaya diharapkan dapat menjadi model yang diterapkan di seluruh Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada impor beras. Dengan dukungan dari pemerintah, lembaga riset, institusi pendidikan, dan masyarakat, program ini diyakini akan memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
Acara panen raya ini menjadi langkah signifikan menuju swasembada pangan. Dengan prestasi yang telah diraih, program ini diharapkan dapat diterapkan di berbagai daerah di Indonesia, menjamin keberlanjutan kedaulatan pangan tanah air.(dian)
