BUKITTINGGI, 26 September 2026 — Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Bukittinggi yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 26 September 2026, di Gedung Dekopin Bukittinggi, menuai protes dari sejumlah Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP).
Pasalnya, dalam undangan yang diterima peserta, agenda Musda dijadwalkan dimulai pada pukul 09.00 WIB. Namun hingga sekitar pukul 13.00 WIB, pelaksanaan Musda disebut belum juga dimulai.
Sejumlah perwakilan OKP mengaku telah hadir di lokasi sebelum pukul 09.00 WIB sesuai dengan waktu yang tercantum dalam undangan. Mereka mempertanyakan keterlambatan pelaksanaan agenda yang dinilai telah membuat peserta menunggu selama berjam-jam.
Kekecewaan semakin mencuat setelah muncul informasi dari panitia bahwa sebagian peserta masih belum hadir karena masih tidur.
“Kalau undangan sudah jelas pukul 09.00 WIB, kami datang sebelum jam tersebut sebagai bentuk menghargai forum. Tetapi sampai siang Musda belum juga dimulai. Kemudian alasan yang disampaikan bahwa peserta masih banyak yang tidur, tentu menjadi pertanyaan bagi kami. Ini Musda organisasi kepemudaan, bukan acara pribadi,” ujar peserta utusan BKPRMI Bukittinggi.
Peserta mempertanyakan keseriusan panitia dalam mempersiapkan agenda yang dinilai sangat penting bagi keberlangsungan organisasi kepemudaan di Kota Bukittinggi.
Musda KNPI seharusnya menjadi ruang musyawarah, konsolidasi, serta proses regenerasi kepemimpinan pemuda. Karena itu, ketepatan waktu dan kesiapan panitia menjadi bagian penting untuk menjaga kredibilitas forum.
Kondisi tersebut juga dinilai semakin memprihatinkan mengingat sebelumnya sejumlah OKP di Kota Bukittinggi telah mendorong agar Musda KNPI segera dilaksanakan. Pada Juli 2026, sejumlah OKP bahkan pernah menyampaikan tuntutan agar proses Musda segera mendapatkan kepastian dan dilaksanakan secara terbuka, demokratis, transparan, serta melibatkan OKP yang memiliki hak sesuai ketentuan organisasi.
Sejumlah pihak berharap persoalan keterlambatan ini tidak berkembang menjadi konflik antarorganisasi. Namun, panitia diminta memberikan penjelasan yang terbuka kepada seluruh peserta terkait penyebab mundurnya jadwal pelaksanaan Musda.
“Yang kami persoalkan bukan sekadar terlambatnya acara. Ini menyangkut bagaimana sebuah organisasi kepemudaan menghargai waktu, komitmen dan kehadiran organisasi-organisasi yang sudah datang memenuhi undangan,” kata peserta utusan SEMMI Bukittinggi.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh penjelasan resmi secara lengkap dari pihak panitia mengenai penyebab Musda yang belum dimulai sesuai jadwal serta kepastian waktu dimulainya persidangan.
Peserta berharap panitia segera memberikan kepastian dan memastikan seluruh tahapan Musda berjalan sesuai mekanisme organisasi, tertib, transparan, serta menghormati seluruh OKP peserta.
