SEKOLAH ROBOH, PEJABAT BIASANYA FOTO-FOTO… TAPI KALI INI JKA “MENGETUK LANGSUNG” PINTU MEDIA GROUP! 

Jakarta — Di saat banyak kepala daerah sibuk bicara pencitraan di atas podium dan berlomba tampil di media sosial, langkah berbeda justru diperlihatkan Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis.

Tanpa banyak drama seremonial, JKA langsung bergerak ke Jakarta menemui petinggi Media Group demi satu tujuan yang sangat mendesak: menyelamatkan masa depan pendidikan anak-anak korban bencana di Batang Anai.

Kunjungan resmi yang dilakukan Jumat (22/5/2026) ke kantor pusat Media Group di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, bukan sekadar kunjungan basa-basi penuh kopi dan senyum kamera. Di balik meja pertemuan itu, tersimpan fakta pahit yang selama ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan di daerah.

Banjir dan longsor besar yang menghantam Padang Pariaman pada November tahun lalu bukan cuma menghancurkan rumah warga. Bencana itu juga merobohkan harapan anak-anak yang setiap hari datang ke sekolah demi masa depan mereka.

SDN 05 Batang Anai ambruk.

Ruang belajar rusak.

Anak-anak terpaksa belajar dalam keterbatasan.

Dan seperti biasa, masyarakat mulai bertanya:

“Di mana negara saat sekolah rakyat kecil roboh?”

Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Sebab publik sudah terlalu sering menyaksikan pola lama:
pejabat datang meninjau,
kamera menyala,
janji dilontarkan,
lalu rakyat ditinggalkan bersama puing-puing.

Namun kali ini situasinya berbeda.

JKA memilih mendatangi langsung pihak yang bisa membantu secara nyata.

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat itu, rombongan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman diterima langsung oleh Ali Sadikin selaku Ketua Yayasan Dompet Kemanusiaan Media Group sekaligus Ketua Yayasan Kick Andy Foundation.

Hasilnya mengejutkan.

Media Group menyatakan siap membantu pembangunan kembali SDN 05 Batang Anai dengan nilai bantuan mencapai Rp2 miliar.

Bukan sekadar bantuan simbolis.

Bukan sekadar CSR tempelan.

Tetapi pembangunan langsung sekolah untuk anak-anak korban bencana.

Langkah ini menjadi tamparan keras bagi banyak pihak yang selama ini hanya pandai berbicara soal “pendidikan prioritas,” tetapi lamban saat sekolah benar-benar roboh.

Masyarakat hari ini sudah lelah dengan gaya politik pencitraan.

Rakyat tidak membutuhkan:

  • baliho ucapan,
  • slogan kosong,
  • atau rapat mewah penuh tepuk tangan.

Yang rakyat butuhkan adalah tindakan nyata ketika sekolah anak mereka hancur.

Dan ironisnya, bantuan besar justru datang setelah kepala daerah turun mengetuk pintu pihak swasta dan lembaga kemanusiaan.

Ini memunculkan pertanyaan besar:

Mengapa banyak fasilitas pendidikan baru diperhatikan setelah viral, roboh, atau menjadi headline?

Apakah gedung sekolah harus runtuh dulu agar ada kepedulian?

Apakah anak-anak daerah harus belajar dalam ketakutan dulu baru anggaran bergerak?

Kondisi inilah yang selama ini menjadi kritik tajam masyarakat terhadap sistem birokrasi yang lamban, penuh prosedur, tetapi sering gagal hadir cepat saat rakyat membutuhkan.

Dalam keterangannya, Bupati JKA menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi masa depan daerah dan anak-anak korban bencana tidak boleh kehilangan semangat belajar hanya karena fasilitas mereka dihancurkan alam.

Pernyataan itu kini diuji oleh tindakan nyata.

Karena publik tahu, membangun daerah tidak cukup hanya dengan pidato heroik di depan mikrofon.

Pemimpin diuji saat rakyatnya tertimpa musibah.

Dan langkah JKA menemui langsung Media Group menunjukkan satu pesan kuat:

Kepala daerah tidak boleh hanya menunggu bantuan turun dari langit.
Mereka harus aktif mencari jalan demi rakyatnya.

Rencana pembangunan kini mulai memasuki tahap teknis. Dalam waktu dekat, tim dari Media Group dijadwalkan turun langsung ke lokasi untuk melakukan pengukuran dan persiapan pembangunan sekolah baru.

Masyarakat Batang Anai kini menunggu satu hal:

bukan lagi janji,
tetapi bukti berdirinya kembali sekolah yang layak bagi anak-anak mereka.

Karena bagi rakyat kecil…

sekolah bukan sekadar bangunan.

Tetapi tempat lahirnya harapan.