
SAMBAS,19 Mei 2026
Di tengah gempuran modernisasi dan digitalisasi, sebuah alarm keras berbunyi bagi kelestarian warisan leluhur di Tanah Sambas. Kesenian Tari Radad, yang sekian lama menjadi ikon budaya kebanggaan masyarakat Kota Sambas, kini berada di ambang kepunahan.
Tergerus oleh pergeseran zaman, tradisi yang sarat akan nilai religius dan estetika ini perlahan mulai terlupakan oleh generasi muda. Ko ni
Tari Radad merupakan salah satu khazanah budaya Sambas yang sangat lengkap. Tidak hanya sekadar gerakan tubuh, tarian ini memadukan unsur sastra tutur, musik perkusi tradisional, dan nilai-nilai spiritual yang mencerminkan jati diri masyarakat Sambas yang santun dan agamis.
Sayangnya, ruang-ruang pertunjukan Radad kini semakin menyusut, digantikan oleh tren hiburan modern.
“Sambas memiliki ikon kebudayaan yang sangat lengkap, dan Tari Radad adalah salah satu permata di dalamnya. Sangat disayangkan jika warisan bernilai tinggi ini harus hilang begitu saja. Sudah sepatutnya budaya ini dilestarikan dan ditransfer ke alih generasi sekarang sebelum terlambat,” ujar Tokoh/Pemerhati Budaya/Ketua Sanggar], seorang peduli budaya Sambas.
Pergeseran zaman memang tidak bisa dihindari, namun hilangnya identitas budaya adalah pilihan yang keliru. Upaya penyelamatan Tari Radad tidak bisa hanya bertumpu pada para pelaku seni senior yang usianya kian senja.
Perlu ada gerakan masif dan terstruktur untuk mengenalkan kembali tarian ini kepada generasi Z dan Alpha.
Langkah Strategis Penyelamatan BudayaUntuk memastikan Tari Radad tetap eksis hingga masa depan, diperlukan sinergi dari berbagai pihak melalui beberapa langkah konkret:

Integrasi ke Kurikulum Sekolah: Memasukkan Tari Radad sebagai materi muatan lokal (mulok) atau kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah se-Kabupaten Sambas.
Digitalisasi dan Re-branding: Mengemas dokumentasi Tari Radad ke dalam platform digital (YouTube, TikTok, Instagram) dengan narasi yang menarik agar memikat generasi muda.
Festival dan Ruang Kreatif: Pemerintah daerah bersama komunitas seni perlu memperbanyak intensitas festival kebudayaan dan ruang pertunjukan publik khusus seni tradisional.
Regenerasi Melalui Sanggar: Mendukung sanggar-sanggar seni lokal dalam membuka kelas pelatihan Tari Radad secara gratis atau terjangkau bagi anak-anak.

Melestarikan Tari Radad bukan berarti menolak kemajuan zaman, melainkan merawat fondasi karakter bangsa. Jika bukan generasi sekarang yang peduli, maka bersiaplah melihat ikon budaya Sambas ini hanya menjadi catatan kaki di buku sejarah.
Penulis Peduli Sejarah:
Abah M.AsrufAzis.SE, perskpknews.com
