Athia Kecewa dan Kecam Pernyataan Kanit Tipiter Polres Solsel, “Jangan Kaitkan Kami dengan UPETI dari PETI!”

Solok Selatan – Pernyataan mengejutkan yang diduga disampaikan oleh Kanit Tipiter Polres Solok Selatan, IPDA Henki, kepada sejumlah awak media, menuai kecaman keras. Salah satu wartawan, Athia, merasa dirinya telah dijatuhkan secara tidak pantas melalui pernyataan yang seolah-olah menyudutkan dan mengaitkannya dengan praktik pemberian uang pelicin (UPETI) dari aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Ketegangan bermula ketika IPDA Henki diduga menyampaikan sebuah pesan melalui perantara rekan wartawan, yang terkesan mendesak agar Athia dan beberapa jurnalis lain segera menemui dirinya di Polres Solok Selatan.

“Tolong cari waktu, Bapak bersama Pak Athia dan Pak Neki bertemu dengan saya di Polres Solsel. Kan nggak enak rasanya, kami sudah berikan kontribusi yang begitu besar tapi Bapak-bapak dan rekan-rekan nggak mau bertemu dengan kami,” demikian isi pernyataan yang dikutip dari pesan Kanit melalui salah satu jurnalis.

“Jangan sampai nggak ada waktunya Bapak buat kami. Karena kami sudah buktikan itikad baik kami dengan Bapak dan rekan-rekan wartawan. Kami tunggu juga itikad baik Bapak untuk bermitra dengan kami,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut langsung membuat Athia bereaksi keras. Ia menegaskan bahwa dirinya selama ini menjalin komunikasi baik dengan jajaran Polres Solok Selatan atas dasar profesionalitas dan hubungan kemitraan yang sehat, bukan karena iming-iming atau balas jasa.

“Saya tidak terima pernyataan itu. Seolah-olah kami ini dibayar atau harus tunduk karena ada bantuan dari mereka. Jangan kaitkan kami dengan UPETI, apalagi dari aktivitas PETI yang jelas-jelas ilegal,” tegas Athia.

Athia mengungkapkan bahwa dirinya selama ini cukup aktif mengungkap dan memberitakan aktivitas PETI di wilayah Solok Selatan. Bahkan, katanya, sempat ada permintaan agar pemberitaan tersebut dihentikan.

“Sebelumnya saya gencar memberitakan aktivitas PETI. Lalu mereka datang dengan bahasa halus agar pemberitaan dihentikan. Tapi sekarang justru muncul pernyataan seperti ini, seakan-akan kami ini punya utang budi,” ungkapnya geram.

Athia menyayangkan bagaimana hubungan baik yang telah terjalin lama kini tercoreng hanya karena penyampaian yang tidak pada tempatnya dari seorang pejabat kepolisian.

“Kalau memang ingin bermitra, sampaikan dengan etika. Bukan dengan kalimat yang menyiratkan tekanan atau bahkan ancaman moral. Kami wartawan, bukan budak,” tutup Athia dengan tegas.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari IPDA Henki terkait pernyataan tersebut.

(Redaksi)