Samaun Bakri, Putra Kuraitaji yang Gugur dalam Tragedi Dakota: Jurnalis Pejuang, Sahabat Bung Karno, Korban Kebiadaban Belanda

Padang Pariaman – Di balik gemuruh Proklamasi 17 Agustus 1945, ada nama-nama yang tak sempat dielu-elukan, namun darah dan perjuangannya tertanam dalam fondasi republik ini. Salah satunya: Samaun Bakri, putra asli Kuraitaji, Padang Pariaman, seorang jurnalis idealis yang menjadi martir dalam tragedi penembakan pesawat Dakota oleh Belanda pada 29 Juli 1947.

Samaun bukan sekadar wartawan. Ia adalah pena kemerdekaan, lidah rakyat tertindas, dan sahabat dekat Soekarno—proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia. Dari balik meja redaksi, Samaun mengobarkan semangat perlawanan terhadap penjajah melalui tulisan yang tajam dan membakar semangat. Ia percaya, kemerdekaan harus ditulis, diteriakkan, dan diperjuangkan, bahkan dengan nyawa.

Tragedi bermula ketika pesawat Dakota VT-CLA yang membawa bantuan medis dan sukarelawan Palang Merah Indonesia, termasuk Samaun di dalamnya, ditembak jatuh oleh pesawat tempur Belanda di langit Dusun Ngoto, Bantul, Yogyakarta. Padahal pesawat itu jelas-jelas membawa lambang kemanusiaan dan tidak bersenjata. Penembakan itu menjadi bukti kebiadaban Belanda di masa agresi militer pertamanya, dan dikenal dalam sejarah sebagai Tragedi Dakota.

Samaun gugur dalam tugas kemanusiaan, bukan di medan perang, tapi di garis depan kemerdekaan—membawa pesan damai, bukan peluru. Ia menjadi simbol bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan dengan senjata, tapi juga lewat kata-kata, keberanian moral, dan tindakan nyata.

Meski namanya tidak setenar wartawan tempo itu seperti Adam Malik atau Rosihan Anwar, kiprah Samaun Bakri sejajar. Sayangnya, hingga kini, belum banyak yang mengenal jejak heroiknya. Di tanah kelahirannya, Kuraitaji, sebagian masyarakat bahkan baru kembali mendengar namanya setelah generasi muda menggali sejarah lokal.

Sejarawan dan budayawan Sumatera Barat kini mendorong agar pemerintah daerah dan pusat mengusulkan Samaun Bakri sebagai Pahlawan Nasional, sekaligus mengabadikan namanya dalam bentuk nama jalan, sekolah, atau museum perjuangan pers.

> “Samaun Bakri adalah martir kemerdekaan dan pelopor pers perjuangan dari Minangkabau. Sudah waktunya bangsa ini membalas jasanya, bukan dengan uang, tapi dengan ingatan,” kata seorang sejarawan Universitas Andalas.

 

Lebih dari tujuh dekade setelah gugurnya, nama Samaun Bakri layak dipulihkan dari sunyi sejarah, diangkat sejajar dengan para pahlawan kata dan bangsa—sebab kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditandai oleh pekikan merdeka, tapi juga oleh suara-suara yang berani menyuarakan kebenaran.
Ilyasaldi kpk tipikor news