Duka keluarga Aditya Pernandes, warga Desa Kajai, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, berubah menjadi kekecewaan mendalam. Setelah Aditya mengalami kecelakaan di kawasan depan Sate KMS, Simpang Marabau, Kota Pariaman, keluarga menilai rangkaian pelayanan yang diterima di RSUD Prof. H. Muhammad Yamin Kota Pariaman sejak UGD hingga ICU masih menyisakan banyak pertanyaan.
Perlu ditegaskan, seluruh keluhan tersebut merupakan keterangan dan penilaian dari pihak keluarga yang masih memerlukan klarifikasi serta verifikasi dari manajemen rumah sakit dan pihak terkait.
Namun pertanyaannya sederhana dan sangat serius:
Ketika seorang pasien berada dalam kondisi kritis, apakah setiap detik pelayanan sudah benar-benar berjalan cepat, tepat dan profesional?
UGD Disorot, Keluarga Mengaku Pasien Sempat Terlantar
Keluarga menyampaikan bahwa saat berada di UGD, kondisi Aditya yang disebut kritis justru dinilai belum mendapatkan respons sebagaimana yang mereka harapkan.
Keluarga juga mempertanyakan sejumlah tindakan dan komunikasi petugas selama proses penanganan. Bagi keluarga, kondisi darurat seharusnya menuntut respons yang cepat serta koordinasi yang solid.
UGD bukan ruang untuk menunggu. UGD adalah garis terdepan antara keselamatan dan risiko kehilangan nyawa.
Karena itu, jika benar terdapat keterlambatan atau komunikasi yang tidak optimal sebagaimana dikeluhkan keluarga, persoalan tersebut layak menjadi bahan evaluasi serius.
Bangsal Bedah dan ICU Ikut Dipertanyakan
Sorotan keluarga tidak berhenti di UGD.
Penempatan pasien di bangsal bedah turut dipertanyakan karena menurut keluarga kondisi Aditya membutuhkan pengawasan lebih intensif.
Keluarga juga menyoroti kondisi layar monitor yang disebut beberapa kali mengalami masalah atau mati. Selain itu, keluarga menilai respons petugas terhadap kondisi pasien tidak selalu sesuai dengan harapan mereka.
Bahkan, menurut keterangan keluarga, terdapat situasi ketika keluarga diminta membantu tenaga petugas dalam proses pengambilan sampel darah.
Jika keluhan tersebut benar terjadi, tentu bukan persoalan kecil.
Pelayanan kesehatan menyangkut keselamatan manusia. Komunikasi, respons petugas, pemantauan pasien dan koordinasi antarbagian seharusnya menjadi satu sistem yang tidak boleh berjalan setengah-setengah.
Ketika Keluarga Meminta Bantuan, Jangan Sampai Merasa Diabaikan
Keluarga juga mengungkapkan pernah terjadi ketegangan dengan petugas ruang rawat inap.
Persoalan disebut bermula ketika keluarga meminta petugas melakukan pengecekan terhadap kondisi Aditya yang mulai mengalami panas tinggi.
Di sinilah pentingnya komunikasi.
Keluarga pasien bukan tenaga medis. Mereka mungkin panik, takut, bahkan tidak memahami istilah medis. Karena itu, keluarga berharap mendapatkan penjelasan yang jelas, manusiawi dan mudah dipahami.
Pasien membutuhkan pelayanan medis. Keluarga membutuhkan kepastian. Keduanya tidak boleh dipertentangkan.
Bukan Pertama Kali? Keluarga Ungkap Pengalaman Tahun 2007
Yang membuat persoalan ini semakin menjadi perhatian, keluarga juga mengungkapkan bahwa pengalaman yang mereka nilai kurang menyenangkan terhadap pelayanan rumah sakit bukan kali pertama.
Menurut keterangan keluarga, kejadian yang mereka anggap serupa pernah dialami pada 2007.
Namun demikian, informasi mengenai kejadian tahun 2007 tersebut merupakan versi keluarga dan masih membutuhkan verifikasi maupun penjelasan dari pihak terkait.
Pertanyaannya kini:
Apakah keluhan masyarakat hanya akan menjadi catatan yang berulang, atau benar-benar dijadikan bahan pembenahan pelayanan?
Dua Kali Laporan Dilayangkan
Keluarga menyatakan telah menyampaikan laporan sebanyak dua kali mengenai persoalan pelayanan dan penanganan Aditya.
Laporan tersebut disebut dibuat dengan versi serta tembusan berbeda agar persoalan mendapat perhatian dan tindak lanjut dari pihak yang berwenang.
Keluarga meminta agar laporan tidak berhenti sebagai administrasi belaka.
Mereka menginginkan penelusuran, evaluasi, transparansi dan penjelasan menyeluruh mengenai rangkaian penanganan medis yang diterima Aditya.
RS M. Yamin Datangi Rumah Duka
Pada Kamis, 20 Agustus 2026 sekitar pukul 09.10 WIB, perwakilan RS M. Yamin mendatangi rumah duka.
Pihak rumah sakit diwakili Andi Helmi, S., selaku Wakil Direktur Umum dan SDM RS M. Yamin.
Pertemuan berlangsung sekitar dua jam dan berakhir sekitar pukul 11.10 WIB.
Dalam pertemuan tersebut, keluarga menyampaikan berbagai keluhan serta data yang mereka miliki mengenai pelayanan dan penanganan Aditya.
Namun hingga pertemuan berakhir, keluarga menyebut belum memperoleh penyelesaian akhir yang mereka anggap memuaskan.
Pihak rumah sakit disebut akan melanjutkan proses tersebut melalui pertemuan berikutnya.
Keluarga Menunggu Jawaban Direktur
Keluarga berharap dapat memperoleh penjelasan langsung dari Direktur Utama RS M. Yamin mengenai seluruh rangkaian pelayanan terhadap Aditya.
Mereka tidak hanya meminta jawaban normatif.
Mereka menginginkan penjelasan konkret:
Apa yang dilakukan? Kapan dilakukan? Siapa yang menangani? Bagaimana kondisi pasien dipantau? Bagaimana komunikasi antarpetugas berlangsung? Dan apakah seluruh prosedur telah berjalan sesuai SOP?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab secara objektif agar tidak muncul spekulasi di tengah masyarakat.
“Jangan Sampai Ada Korban Berikutnya”
Keluarga menegaskan bahwa tuntutan mereka bukan semata-mata untuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Mereka ingin tragedi yang dialami Aditya menjadi momentum untuk memperbaiki pelayanan kesehatan.
“Kami berharap jangan sampai ada lagi korban berikutnya yang meninggal dunia karena lambatnya respons atau penanganan dari pihak medis, terutama di bagian UGD. Nyawa manusia sangat berharga dan pelayanan harus benar-benar profesional.”
Pesan tersebut menjadi inti perjuangan keluarga.
Mereka kehilangan seorang anggota keluarga. Yang mereka minta sekarang bukan sekadar simpati, melainkan kejelasan.
Kritik Pedas: Rumah Sakit Harus Berani Membuka Evaluasi
Pelayanan rumah sakit tidak boleh hanya dinilai dari megahnya gedung, lengkapnya peralatan atau banyaknya tenaga kesehatan.
Ukuran paling mendasar adalah:
Bagaimana pasien diperlakukan ketika sedang berada di titik paling membutuhkan pertolongan?
Jika ada keluhan tentang respons petugas, komunikasi, alat pemantauan, penempatan pasien hingga koordinasi pelayanan, semuanya patut diperiksa secara profesional.
Bukan untuk menghakimi.
Bukan untuk mencari kambing hitam.
Tetapi untuk memastikan bahwa keselamatan pasien benar-benar menjadi prioritas utama.
Jangan sampai kritik masyarakat baru dianggap penting setelah tragedi terjadi.
Mediasi Belum Tuntas, Publik Menunggu Klarifikasi
Hingga berita ini diturunkan, persoalan tersebut masih menunggu tindak lanjut dan klarifikasi resmi dari manajemen RSUD Prof. H. Muhammad Yamin.
KPK Tipikor News Indo menilai persoalan ini perlu diselesaikan melalui mekanisme yang objektif, transparan dan berdasarkan data medis serta rekam pelayanan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Jika seluruh prosedur ternyata telah dijalankan sesuai ketentuan, publik juga berhak mendapatkan penjelasan tersebut.
Sebaliknya, jika ditemukan kekurangan dalam pelayanan, maka evaluasi dan pembenahan harus dilakukan secara nyata.
Sebab di balik setiap nomor rekam medis ada manusia. Di balik setiap pasien ada keluarga. Dan di balik setiap kematian, selalu ada duka yang tidak bisa diukur dengan angka.
Kini keluarga menunggu jawaban. Masyarakat menunggu transparansi. Dan pelayanan kesehatan menunggu pembuktian bahwa keselamatan pasien memang berada di atas segalanya.
(TIM)
