Site icon KPK TIPIKOR NEWS

Gus Kikin: Qanun Asasi NU Tak Sekedar Sejarah, Tapi Nilai yang Harus Terus Dihidupkan

Padang,  perskpknews.com- Al-Qanun Al-Asasi Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekedar dokumen sejarah, melainkan fondasi nilai yang harus terus dihidupkan. Di dalamnya terkandung prinsi-prinsip yang membentuk tradisi keilmuan, adab persatuan dan akhlak, serta tanggung jawab dalam pengabdian kepada umat.

Demikian penegasan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) pada silaturahim dengan KH Abdul  Hakim Mahfudz dengan warga nahdiyin di Sumatera Barat, Jumat (21/8/2026) di hotel UNP Padang.  Silaturahmi bertemakan, merawat tradisi meneguhkan

Menurut Gus Kikin, Qanun Asasi bukan sekedar aturan organisasi Nahdlatul Ulama, Qanun Asasi merupakan jawaban Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari terhadap krisis umat. Di dalamnya beliau merancang paradigma berpikir, kepemimpinan ulama, budaya organisasi, tradisi keilmuan, ukhuwah dan pengabdian. NU sejak awal dibangun oleh nilai, bukan oleh kekuasaan.

“Qanun Asasi merupakan tulisan yang disusun KH Hasyim Asy’ari saat mendirikan Nahdlatul Ulama. Bagaimana NU dijalankan, diperjuangkan dan digerakkan, dijelaskan dalam Qanun Asasi. Karena itu, revitalisasi Qanun Asasi NU jalan kembali kepada ruh organisasi NU,” tutur Gus Kikin calon Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026-2031 mendatang.

Dikatakan Gus Kikin, NU lahir bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai sebuah peradaban yang dibangun di atas ilmu, adab, ukhuwah, dan kepemimpinan ulama. Seluruh fondasi itu dirumuskan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dalam Al-Qanun Al-Asasi. Jadi Qanun Asasi itu merupakan DNA-nya Nahdlatul Ulama.

Juga disebutkan mengapa Qanun Asasi dilahirkan? Gus Kikin menjelaskan, terjadinya krisis umat tahun 1926. Terlihat adanya perpecahan  umat, kolonialisme, modernisme tanpa kendali, diperlukan penyatuan, perlu fondasi organisasi  yang kuat. Sehingga melahirkan Qanun Asasi

“Qanun Asasi bukan sekedar dokumen konstitusional, tetapi sistem nilai yang membentuk budaya Nahdlatul Ulama,” jelas Gus Kikin, cicit dari Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama ini.

Ketua PWNU Sumatera Barat Prof. Ganefri menyampaikan terima kasih kehadiran Gus Kikin di Sumatera Barat sehingga kehadiran tersebut dapat mengkonsolidasikan perjuangan Nahdlatul Ulama di Sumatera Barat. “Berharap NU akan mendapatkan pemimpin yang baru, bisa merangkul semua pihak dan bersatu. Sehingga akan menghasilkan lompatan-lompatan NU ke depannya yang luar biasa,” tutur Ganefri mantan Rektor UNP dua periode ini.

Turut mendampingi Gus Kikin Prof. Masykuri dan KH Ahmad Rafiuddin (Serang) putra Abuya Munfasir. Silaturahmi dihadiri Rais Syuriah PWNU Sumbar KH Mohc. Chozein Adnan, Koordinator Wilayah (Korwil) Tim Pemenangan Gus Kikin Sumatera Barat Armaidi Tanjung, Katib PWNU Sumbar Joben, Sekretaris PWNU Sumbar Tan Gusli, Ketua PCNU se-Sumatera Barat, banon NU di Sumatera Barat dan ratusan jamaah majelis taklim PCNU Kota Padang. (R/*)

Exit mobile version