Site icon KPK TIPIKOR NEWS

Regenerasi Kesadaran Ekologis: Keterlibatan Mahasiswa Baru dalam Aksi Tagak Rimbo di Gurun Laweh Padang

Oleh: Usman Arif Habibi (Prodi Perbandingan Mazhab UIN Imam Bonjol Padang)

Delapan bulan berlalu sejak galodo (banjir bandang) menerjang sejumlah wilayah di Sumatera Barat, proses rehabilitasi masih terus berlangsung. Pemulihan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar atau anggaran yang melimpah. Di Gurun Laweh, Kota Padang, pada 1–2 Agustus 2026, saya menyaksikan bagaimana langkah sederhana berupa cangkul, bibit pohon, dan semangat gotong royong mampu menghadirkan harapan baru. Yang membuat pengalaman itu semakin bermakna ialah sebagian besar relawan yang turun ke lapangan merupakan mahasiswa baru yang bahkan belum genap sebulan menyandang status sebagai mahasiswa.

Galodo yang melanda Sumatera Barat  akhir November 2025 meninggalkan luka yang belum sepenuhnya pulih. Banjir bandang yang membawa material lumpur, kayu, dan bebatuan itu menerjang sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Agam, Limapuluh Kota, Padang Panjang, Tanah Datar, Solok, Padang Pariaman, dan Kota Padang. Selain dipicu cuaca ekstrem, berbagai kajian menunjukkan bahwa degradasi lahan di kawasan hulu turut memperparah dampak bencana. Karena itu, rehabilitasi lahan menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) BEM Keluarga Mahasiswa Universitas Andalas (Unand) 2026 menyelenggarakan Aksi Tagak Rimbo “Basamo Mambangkik Alam” di Gurun Laweh. Program yang didukung Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini dilaksanakan bersama Rumah Zakat dan Sumbar Fokus. Selama dua hari, para relawan menanam bibit vetiver, 250 pohon berakar kuat untuk konservasi, serta 400 pohon produktif yang diharapkan dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Ada satu hal yang paling membekas dari kegiatan ini, meski terbuka untuk umum, sebagian besar peserta yang turun ke lahan merupakan mahasiswa baru Universitas Andalas angkatan 2026. Mereka yang bahkan belum genap sebulan menyandang status sebagai mahasiswa.

Saya hadir sebagai relawan dari UIN Imam Bonjol Padang, bukan bagian dari almamater penyelenggara. Posisi itu memberi saya kesempatan untuk tidak hanya ikut mencangkul dan menanam, tetapi juga mengamati dinamika yang tumbuh di lapangan dari sudut pandang yang sedikit berbeda.

Selama dua hari mengikuti kegiatan itu, saya menangkap semangat yang melampaui kegiatan menanam pohon itu sendiri. Dari berbagai percakapan dengan para peserta, tampak bahwa setiap orang membawa motivasinya masing-masing. Ada yang ingin secepat mungkin beradaptasi dengan kehidupan kampus, ada yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mengasah kemampuan berbicara di depan umum, dan ada pula yang ingin memperluas relasi dengan teman-teman baru dari berbagai fakultas. Di tengah beragam motivasi tersebut, mereka dipertemukan oleh satu tujuan yang sama, yaitu bekerja bersama memulihkan lahan yang terdampak bencana.

Justru di situlah letak hal yang paling menarik. Tanpa disadari, proses beradaptasi sebagai mahasiswa baru berjalan beriringan dengan proses belajar memahami persoalan lingkungan secara langsung. Mereka tidak hanya mengenal kampus melalui ruang kelas atau kegiatan organisasi, tetapi juga melalui pengalaman bekerja bersama di tengah lahan masyarakat yang sedang dipulihkan. Pengalaman semacam ini memperlihatkan bahwa pembentukan karakter mahasiswa dapat dimulai sejak hari-hari pertama perkuliahan melalui keterlibatan dalam kerja-kerja nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat, yang tentunya berimplikasi pada salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ada.

Kesadaran ekologis tidak selalu lahir dari ruang kuliah, seminar, atau kampanye di media sosial. Di Gurun Laweh, ratusan mahasiswa baru memulai perjalanan akademiknya melalui pengalaman yang jauh lebih nyata, yakni bekerja di lahan kritis pascabencana, memahami pentingnya tanaman berakar kuat seperti vetiver dalam menjaga stabilitas tanah, serta menyaksikan bagaimana kolaborasi lintas kampus dan lintas lembaga dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Bagi saya, pengalaman semacam ini lebih dari sekadar kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Ia merupakan bentuk pendidikan ekologis berbasis pengalaman (experiential learning), ketika pengetahuan tidak hanya diperoleh melalui teori, tetapi juga dibangun melalui keterlibatan langsung di lapangan. Pengalaman seperti inilah yang berpeluang lebih lama membekas dalam ingatan sekaligus membentuk kepedulian terhadap lingkungan

Di situlah saya memahami bahwa regenerasi yang sesungguhnya tidak hanya terjadi pada hutan atau lahan yang rusak, tetapi juga pada cara generasi muda memandang lingkungan. Bibit-bibit yang ditanam di Gurun Laweh kelak mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh besar. Namun, kesadaran yang mulai tumbuh dalam diri para mahasiswa baru itu dapat menjadi modal yang jauh lebih berharga untuk masa depan.

Pemulihan alam memang membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Namun, keberlanjutannya sangat ditentukan oleh hadirnya generasi yang bersedia terlibat sejak awal. Jika hari pertama menjadi mahasiswa sudah diisi dengan pengalaman memulihkan lingkungan bersama masyarakat, maka kampus tidak hanya sedang mencetak sarjana, tetapi juga sedang menumbuhkan warga yang peduli terhadap alam. Barangkali, dari Gurun Laweh, bibit-bibit itu tidak hanya tumbuh di dalam tanah, tetapi juga di dalam cara pandang mereka terhadap masa depan Sumatera Barat.  Padang, 3 Agustus 2026. e-mail : usman_arif_habibi@uinib.ac.id

 

Exit mobile version