KPK TIPIKOR NEWS INDO | Nasional
Di balik semangat mencerdaskan kehidupan bangsa, tersimpan kisah pilu yang menggambarkan kerasnya perjuangan sebagian guru honorer di Indonesia. Salah satunya adalah Guntur (55), seorang guru kelas I SD Negeri di Desa Kala yang telah mengabdikan dirinya selama hampir dua dekade demi mendidik generasi penerus bangsa.
Namun pengabdian panjang itu belum sebanding dengan kesejahteraan yang diterimanya.
Sejak mulai mengajar pada tahun 2006, Guntur mengaku hanya menerima honor sekitar Rp83.000 hingga Rp100.000 per bulan. Ironisnya lagi, besaran honor tersebut ditentukan berdasarkan jumlah jam mengajar yang diberikan sekolah.
Yang lebih memprihatinkan, ia bahkan tidak diperbolehkan mengajar lebih dari delapan jam dalam satu bulan, sehingga kesempatan memperoleh tambahan penghasilan dari profesinya sebagai guru menjadi sangat terbatas.
Saat ini, seluruh penghasilannya berasal dari Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dicairkan setiap tiga bulan sekali. Dalam satu triwulan, Guntur hanya menerima sekitar Rp250.000 hingga Rp300.000, atau rata-rata sekitar Rp80.000–Rp100.000 per bulan.
“Gaji tidak seberapa, hanya cukup untuk beli beras 10 kilogram. Ya harus pintar-pintar cari tambahan dengan membuka kios kecil depan rumah,” ungkap Guntur.
Mengajar Demi Masa Depan Anak Bangsa, Berdagang Demi Menghidupi Keluarga
Kondisi ekonomi memaksa Guntur dan istrinya mencari jalan lain agar dapur tetap mengepul. Dengan modal sederhana, mereka membuka kios kecil di depan rumah yang menjual kebutuhan sehari-hari seperti kopi instan, mi instan, makanan ringan, hingga minuman dingin.
Usaha kecil itulah yang menjadi penopang utama kehidupan keluarga mereka.
Di pagi hari Guntur mengajar di sekolah, sementara selepas itu ia kembali menjadi pedagang demi memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Potret Ketimpangan yang Masih Menjadi PR Bangsa
Kisah Guntur bukan sekadar cerita tentang seorang guru honorer. Ini merupakan potret nyata bahwa masih ada tenaga pendidik yang mengabdikan hidupnya dengan penuh dedikasi, tetapi belum menikmati kesejahteraan yang layak.
Guru adalah ujung tombak pendidikan nasional. Dari tangan merekalah lahir dokter, insinyur, hakim, polisi, tentara, hingga para pemimpin masa depan. Oleh karena itu, penghargaan terhadap profesi guru bukan hanya berupa ucapan terima kasih, tetapi juga harus diwujudkan dalam kebijakan yang memberikan kepastian dan kesejahteraan.
Harapan untuk Perubahan
Masyarakat berharap pemerintah pusat maupun daerah terus memperkuat kebijakan yang berpihak pada tenaga pendidik, termasuk memperhatikan kesejahteraan guru honorer yang telah lama mengabdi. Peningkatan kualitas pendidikan akan sulit tercapai apabila para guru masih harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.
Pengabdian tidak seharusnya dibalas dengan ketidakpastian. Guru yang membangun masa depan bangsa juga berhak memperoleh kehidupan yang layak.

