Sudah hampir dua tahun berlalu. Waktu terus berjalan, namun tanda-tanda perubahan yang pernah dijanjikan tak kunjung terlihat. Jalan di kampung yang dulu diharapkan akan dibangun, hingga kini masih menyisakan tanah, debu, dan puing-puing batu kecil. Saat hujan berubah menjadi kubangan, saat kemarau menjadi hamparan debu yang mengganggu aktivitas warga.
Dulu aku begitu percaya. Harapan itu tumbuh begitu besar hingga memenuhi seluruh ruang di dada. Aku ikut berjuang, mengorbankan tenaga, waktu, bahkan keyakinan, karena percaya bahwa semua perjuangan itu akan berbuah perubahan. Aku yakin kampung ini akan memiliki jalan yang layak, agar masyarakat dapat menikmati pembangunan yang selama ini dinantikan.
Namun kenyataan berkata lain. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan kini hampir dua tahun telah berlalu tanpa kepastian. Harapan yang dulu begitu tinggi perlahan berubah menjadi penantian yang melelahkan.
Kini aku tak lagi pandai merangkai harapan setinggi dulu. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena terlalu sering berharap hingga akhirnya belajar menerima kenyataan. Sesak di dada itu pernah ada, lahir dari harapan yang begitu besar. Kini yang tersisa hanyalah doa dan kesabaran.
Mau dibilang apa lagi? Semua sudah terjadi. Aku hanya bisa menanti, berharap suatu hari nanti suara masyarakat benar-benar didengar, dan jalan yang selama ini hanya berupa tanah serta puing-puing batu akhirnya berubah menjadi jalan yang layak, bukan sekadar janji yang terus tertinggal oleh waktu.

