Site icon KPK TIPIKOR NEWS

“HU…” Bukan Sekadar Lafaz, Tapi Panggilan Langit yang Menggetarkan Jiwa

Ada getaran yang tak mampu dijelaskan akal ketika seseorang melafazkan “HU…”.
Bukan sekadar suara.
Bukan sekadar dzikir.
Tetapi sebuah panggilan rahasia yang menembus relung jiwa paling dalam.

Konon para pencari hakikat percaya, saat kau mengucapkan “HU”, sebenarnya bukan dirimu yang sedang memanggil Allah…
melainkan Allah yang sedang memanggilmu.

Sebuah panggilan sunyi…
yang membangunkan hati dari tidur panjang dunia.

“HU…” adalah isyarat cinta.
Isyarat bahwa ada hubungan lama antara ruh dan Sang Pencipta yang pernah terjalin sebelum manusia turun ke bumi.

Bukankah dalam rahasia penciptaan, ruh manusia pernah bersaksi di hadapan-Nya?

“Alastu birabbikum?”
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?”

Dan seluruh ruh menjawab:

“Balaa syahidnaa…”
“Benar, kami bersaksi.”

Sejak saat itu, jiwa manusia membawa kerinduan yang tak pernah benar-benar hilang.
Kerinduan yang kadang muncul dalam tangis tanpa sebab…
dalam sunyi malam…
atau ketika hati tiba-tiba bergetar mendengar nama-Nya disebut.

Maka ketika lafaz “HU…” keluar dari bibirmu, ada yang mengatakan itu bukan suara manusia biasa.
Itu gema janji lama.
Janji ruh kepada Rabb-nya.

Karena “HU” bukan hanya dzikir…
tetapi panggilan pulang.

Tak heran sebagian orang menangis tanpa tahu sebab saat tenggelam dalam dzikir itu.
Hatinya seperti disentuh sesuatu yang sudah lama hilang.
Seolah ada pintu langit yang terbuka perlahan, memanggil jiwa untuk kembali mengingat asalnya.

Di tengah kerasnya dunia, manusia sibuk mengejar nama, harta, dan pujian.
Namun satu lafaz “HU…” mampu meruntuhkan ego dan mengingatkan:

Bahwa sebelum semua ini ada…
kita pernah dekat dengan-Nya.

Dan mungkin…
setiap getaran dzikir itu adalah cara Allah berkata lembut kepada hamba-Nya:

“Aku tidak pernah jauh darimu.”

Exit mobile version