Antara Rumah, Tiang, dan Pondasinya: Negeri dalam Cengkeraman Korupsi

Oleh: Roni Guci

Jika diibaratkan sebuah rumah, maka tiang dan pondasi negara ini sudah rapuh dimakan rayap. Bagaimana tidak? Tikus-tikus merajalela di mana-mana, menjadikan uang sebagai dewa. Koruptor terus bermunculan, tanpa ada efek jera yang nyata. Hukuman yang ringan, sistem hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah, membuat praktik korupsi, markup, dan pungli semakin menjadi-jadi, seolah sudah menjadi budaya.

Tak ada ketakutan terhadap larangan agama yang jelas menyebutkan bahwa mengambil yang bukan haknya adalah dosa besar. Uang rakyat yang seharusnya digunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan justru masuk ke kantong pribadi para pejabat rakus. Akibatnya, rakyat yang paling menderita.

Rakyat Sengsara, Pejabat Berpesta

Di tengah kemewahan para pejabat yang gemar memamerkan harta, rakyat kecil justru semakin sengsara. Kelaparan bukan lagi sekadar ancaman, tetapi sudah menjadi kenyataan. Banyak orang hidup dengan penghasilan pas-pasan, bahkan tak sedikit yang tidur dengan perut kosong. Perbedaan antara si kaya dan si miskin semakin mencolok, ibarat bumi dan langit di lapisan ketujuh.

Ratusan content creator dan jurnalis independen telah menemukan banyak rakyat yang kelaparan di sudut-sudut kota besar. Sementara itu, para pejabat sibuk berpesta, menikmati jamuan mewah dengan anggaran yang bersumber dari pajak rakyat. Biaya hidup yang semakin tinggi membuat masyarakat kesulitan sekadar untuk bertahan hidup. Rumah hanyalah mimpi, sedangkan untuk membayar kontrakan saja banyak yang megap-megap.

Negara di Ambang Kehancuran

Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa ada langkah tegas, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan negara ini akan mengalami kehancuran total. Para investor asing mulai kehilangan kepercayaan dan enggan menanamkan modalnya di negeri ini. Hukum yang tidak tegas dan banyaknya biaya siluman membuat lingkungan investasi menjadi tidak kondusif.

Korupsi yang merajalela, ditambah dengan pungutan liar dan penyalahgunaan wewenang oleh aparat serta birokrat, semakin membuat negara ini tak lagi aman bagi bisnis dan investasi. Para pejabat yang seharusnya menjadi pelayan rakyat justru berubah menjadi “punglitor,” “mar’uptor,” dan “koruptor.”

Butuh Revolusi Hukum dan Ketegasan

Saatnya ada perubahan nyata! Negara ini tidak akan selamat jika sistem hukum masih bisa dibeli dan pejabat terus mengkhianati amanah rakyat. Tanpa tindakan tegas, korupsi akan terus menjadi lingkaran setan yang menghancurkan negeri ini dari dalam. Hukuman mati bagi koruptor kelas kakap mungkin bisa menjadi solusi, agar ada efek jera dan negeri ini bisa kembali berdiri di atas pondasi yang kuat.

Jika tidak, jangan kaget jika suatu hari nanti kita hanya bisa menyaksikan kehancuran dari rumah yang tiangnya sudah lapuk dan pondasinya sudah retak. Negeri ini akan runtuh, bukan karena musuh dari luar, tetapi karena pengkhianatan dari dalam.